Assalamualaikum sobat!, apa kabar ? Insyaallah kabar baik semua yah !!!
Lagi buat apa ? Insyaallah lagi berbuat kebaikan yah !!! Suka baca cerpen yang
bisa meneteskan air mata kan ? Suka cerita Putri Rapunzel, Cinderellah atau
suka cerita Bawang Merah Bawang Putih ? Insyaallah pada suka semua
ceritanya yah !!! Nahh... hari ini nurul punya cerpen untuk semua. cerpen ini
dari majalah loh hahaha... Maklum lah saya sukanya cerpen yang
sedih-sedih hahaha....
Bismillah :
Piring Kosong Ayah
Aku hanya duduk diam di samping ayah yang terus menadahkan piring kosongnya.
Sesekali aku merintih padanya. "Aku lapar,Ayah."
"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi kita makan,"pelan suara Ayah menjawab.
Sungguh, bicara tentang kepedihan jauh lebih mudah daripada ketika harus
menjalaninya. Kini, aku tengah bicara tentang kepedihan hidup itu. Ini adalah
kisah hidup yang kulalui bersama ayahku dan piring kosong, satu-satunya harta
tersisa miliknya. Piring kosong tanpa secuil pun nasi, apalagi daging, sayuran,
atau buah. Piring kosong ayahku hanya berisikan hasil balas kasihan orang.
Beginilah kami. Bukan mau kami hidup dengan tangan selalu di bawah. Sering kulihat Ayah menangis tengah malam ketika aku tengah tidur beralaskan kardus. Ayah menengadahkan kedua tangannya ke atas dengan cucuran air mata dan bisikan yang berbata-bata, memohon balas kasihan Sang Maha. Kepedihannya kurasakan demikian kuat.
Ke mana-mana berjalan kaki hingga pada akhirnya kami duduk di suatu tempat, lalu Ayah menadahkan piring kosongnya pada setiap orang yang lalu-lalang di sepanjang jalan. Ada yang memberi uang recehnya. Tring! Begitu kurang lebih bunyinya. Ada pula yang menaruh lembaran uang ribuan yang entah sengaja atau tidak, oleh sang pemberi diremas-remas hingga kusut menjadi bulatan tak beraturan. Meski begitu, Ayah selalu membalasnya dengan mengangguk dan tersenyum sambil berkata terima kasih. Sesekali ada juga yang memberi sebungkus nasi di atas piring yang dipegang ayahku. Rupa-rupa pemberian para pemberi yang melewati persinggahan kami. Ayah selalu tersenyum menerimanya, terlihat binar-binar cahaya di matanya yang semakin kuyu.
Aku kembali diam dengan terus memegangi perutku, kadang sedikit kutekan agar berkurang rasa perihnya. Mataku terpana melihat seorang anak laki-laki yang sedang dituntun seorang perempuan, pasti ibunya. Tangan sang ibu yang satunya membawa sekeranjang penuh belanjaan. Mereka keluar dari dalam pasar. Ketika mereka melewati kami, ibu itu tidak menoleh sedikit pun, pandangannya lurus ke depan seperti tergesa-gesa.
Mataku terus memerhatikan bocah lelaki yang asyik menikmati es krim itu. Aku hanya bisa menelan ludah. Aku bisa rasakan betapa lezat es krim cokelat itu. Harganya pasti sangat mahal buatku. Aku hanya bisa memandangi mereka sampai akhirnya anak dan ibu itu masuk ke sebuah mobil pribadi yang pintunya telah di bukakan sopirnya. Hingga mobil itu melaju, mataku masih terus mengikuti mereka sampai benar-benar lenyap dari pandangan.
"Yusuf, kamu sudah lapar, kan ? Ayo kita makan di warung Mbok Dhana!" Ayah bangkit dan menyodorkan lengan kanannya padaku. Kuraih tangan Ayah dan badanku terangkat berdiri.
Aku di tuntun Ayah menuju warung Mbok Dhana untuk makan nasi lengko, menu
istimewa kami. Nasi lengko khas Cirebon ini berisi lauk tempe dan tahu goreng,
toge yang telah di rebus, mentimun yang dicacah, kecap, bumbu kacang, daun
kucai, di tambah juga bumbu bawang. Jika suka pedas bisa di tambahkan sambal.
Satu porsi nasi lengko Mbok Dhana masih terjangkau buat kami karena hanya di hargai
2.500 rupiah.
Syukurlah warung Mbok Dhana buka. Kalau tutup, kami terpaksa makan di warung lain yang menjual nasi lengko seharga 4.000 rupiah. tapi kalau terpaksa makan di sana, kami hanya memesan nasi dengan lauk amat sederhana yang harganya lebih mahal lima ratus rupiah dari satu porsi nasi lengko Mbok Dhana.
"Nasi lengkonya dua ya, Mbok,"pesan Ayah sambil mengacungkan dua jari
ke arah Mbok Dhana, "satu jangan pakai sambel, buat Yusuf, "Sambil
tersenyum, Ayah mengusap kepalaku.
"Minumnya teh anget?"tanya Mbok Dhana.
"Air putih saja, Mbok,"jawab Ayah.
Dalam hati, aku ingin sekali minum susu cokelat yang menggantung tali yang ada di belakang Mbok Dhana. Kami belum pernah minum susu. Bagaimana rasanya, ya ? Pasti enak. Tapi aku takut Ayah tidak memiliki cukup uang untuk membelinya. Dua piring nasi lengko saja sudah 5.000 rupiah. Di tambah dua gelas air putih yang sekarang sudah di hargai 500 rupiah per gelas. Biaya sarapan yang sakaligus makan siang kami hari sudah 6.000 rupiah. Belum untuk makan malam kami nanti. Pasti tidak cukup jika di gunakan untuk beli segelas susu cokelat buatku.
"Kamu kenapa, Suf ? Bosan, ya, makan nasi lengko terus ?"tanya Ayah.
Segera saja kualihkan pandanganku pada sepiring nasi di hadapanku. Sambil menggeleng aku menjawab,"Tidak apa-apa, Yah. Yusuf suka nasi lengko, kok."
"Nanti, kalau Ayah punya rezeki, kita makan pakai ayam goreng, ya."
"Ini juga enak,"jawabku sambil melahap nasi lengko dalam diam.
Ayah memperhatikanku. Dia yang membesarkanku, paham benar perasaanku."Iwan, kamu mau apa?"tanyanya sabar.
"Aku....aku ingin minum susu cokelat, Ayah,"jawabku akhirnya,
ragu-ragu.
Sekonyong-konyong Ayah merogoh saku bajunya, menghitung apakah uang hasil dari pagi sampai siang ini cukup untuk membayar segelas susu cokelat.
Sepertinya
cukup. Lalu Ayah memanggil Mbok Dhana yang sedang menggoreng di dapur.
"Mbok, susu cokelat satu!"seru Ayah.
Mbok Dhana keluar dari dapur,"Dingin atau panas?"tanyanya.
Ayah menoleh padaku. "Dingin,"jawabku spontan.
"Waaaahh, hasil tadahan piring kosongnya dapat banyak ya, Pak?"gurau
Mbok Dhana sambil menuangkan air dan es batu ke dalam gelas. Ayah tersenyum.
Akhirnya aku bisa minum susu cokelat dingin. Mungkin rasanya hampir sama dengan es krim yang di makan anak kecil tadi. Hanya bedanya, es yang dia makan telah beku, punyaku tidak. Bagiku rasanya tetap saja sangat enak, tak kalah dengan es krim itu. Mungkin.
Susu cokelat dingin adalah sedikit variasi dalam kehidupanku bersama Ayah.
Jarang sekali terjadi. Aku tak tahu sampai kapan kehidupan kami berjalan
seperti ini. Aku, Ayah, dan piring kosongnya kerap jadi sorotan mata orang.
Entah apa yang ada dalam pikiran mereka tentang kami.
Sungguh, kelak jika besar nanti aku ingin berkerja dengan pekerjaan yag lebih
baik. Tak mau seperti ayahku. Bila sudah bekerja akan aku belikan Ayah makanan
yang enak, bukan nasi lengko murahan, dan pakaian bagus. Entah bagaimana
kudapatkan pekerjaan itu sementara sampai sekarang aku tak pernah bersekolah.
Andai orangtuaku tak semiskin ini, aku pasti bisa sekolah, makan dengan layak, dan pakaianku tak akan sekotor dan sekucel ini. Aku pandangi wajah Ayah yang penuh kerutan dimakan usai dan kemiskinan. Ia tengah menghitung hasil tadahan. Sungguh aku sedih melihat ayahku yang sudah senja tapi hidupnya selalu susah. Sering ku bertanya sendiri, kenapa Ayah memilih pekerjaan ini kalau ini masih bisa di sebut pekerjaan?
Kata Ayah, dulu dia pernah bekerja. Jadi kuli, karena dia tak punya bekal
pendidikan apa pun. Kondisi kesehatan dan usianya yang semakin tua tak lagi
menyisakan tenaga untuk sekedar menjadi kuli. Kematian Ibu yang sakit tanpa
penanganan medis, semakin mengikis kekuatan Ayah. Cara inilah yag tetap membuat
Ayah dan aku tetap bisa hidup.
Aku tak tahu hidupku di masa depan. Hari ini dan entah sampai kapan, kemiskinan dan kelaparan adalah warna suram hidup aku dan ayahku. Namun, tetap ada satu warna indah dalam hidupku, yaitu besarnya kasih sayang dan kesabaran Ayah kepadaku. :)

