Selasa, 18 November 2014


   Assalamualaikum  sobat!, apa kabar ? Insyaallah kabar baik semua yah !!! Lagi buat apa ? Insyaallah lagi berbuat kebaikan yah !!! Suka baca cerpen yang bisa meneteskan air mata kan ? Suka cerita Putri Rapunzel, Cinderellah atau suka cerita Bawang Merah Bawang Putih ?  Insyaallah pada suka semua ceritanya yah !!! Nahh... hari ini nurul punya cerpen untuk semua. cerpen ini dari majalah loh hahaha...   Maklum lah saya sukanya cerpen yang sedih-sedih  hahaha.... 

Bismillah :

  Piring Kosong Ayah
   
     Aku hanya duduk diam di samping ayah yang terus menadahkan piring kosongnya. Sesekali aku merintih padanya. "Aku lapar,Ayah."
    "Sabar ya, Nak. Sebentar lagi kita makan,"pelan suara Ayah menjawab.
    Sungguh, bicara tentang kepedihan jauh lebih mudah daripada ketika harus menjalaninya. Kini, aku tengah bicara tentang kepedihan hidup itu. Ini adalah kisah hidup yang kulalui bersama ayahku dan piring kosong, satu-satunya harta tersisa miliknya. Piring kosong tanpa secuil pun nasi, apalagi daging, sayuran, atau buah. Piring kosong ayahku hanya berisikan hasil balas kasihan orang.

    Beginilah kami. Bukan mau kami hidup dengan tangan selalu di bawah. Sering kulihat Ayah menangis tengah malam ketika aku tengah tidur beralaskan kardus. Ayah menengadahkan kedua tangannya ke atas dengan cucuran air mata dan bisikan yang berbata-bata, memohon balas kasihan Sang Maha. Kepedihannya kurasakan demikian kuat.

    Ke mana-mana berjalan kaki hingga pada akhirnya kami duduk di suatu tempat, lalu Ayah menadahkan piring kosongnya pada setiap orang yang lalu-lalang di sepanjang jalan. Ada yang memberi uang recehnya. Tring! Begitu kurang lebih bunyinya. Ada pula yang menaruh lembaran uang ribuan yang entah sengaja atau tidak, oleh sang pemberi diremas-remas hingga kusut menjadi bulatan tak beraturan. Meski begitu, Ayah selalu membalasnya dengan mengangguk dan tersenyum sambil berkata terima kasih. Sesekali ada juga yang memberi sebungkus nasi di atas piring yang dipegang ayahku. Rupa-rupa pemberian para pemberi yang melewati persinggahan kami. Ayah selalu tersenyum menerimanya, terlihat binar-binar cahaya di matanya yang semakin kuyu.

    Aku kembali diam dengan terus memegangi perutku, kadang sedikit kutekan agar berkurang rasa perihnya. Mataku terpana melihat seorang anak laki-laki yang sedang dituntun seorang perempuan, pasti ibunya. Tangan sang ibu yang satunya membawa sekeranjang penuh belanjaan. Mereka keluar dari dalam pasar. Ketika mereka melewati kami, ibu itu tidak menoleh sedikit pun, pandangannya lurus ke depan seperti tergesa-gesa.

   Mataku terus memerhatikan bocah lelaki yang asyik  menikmati es krim itu. Aku hanya bisa menelan ludah. Aku bisa rasakan betapa lezat es krim cokelat itu. Harganya pasti sangat mahal buatku. Aku hanya bisa memandangi mereka sampai akhirnya anak dan ibu itu masuk ke sebuah mobil pribadi yang pintunya telah di bukakan sopirnya. Hingga mobil itu melaju, mataku masih terus mengikuti mereka sampai benar-benar lenyap dari pandangan.

    "Yusuf, kamu sudah lapar, kan ? Ayo kita makan di warung Mbok Dhana!" Ayah bangkit dan menyodorkan lengan kanannya padaku. Kuraih tangan Ayah dan badanku terangkat berdiri.
    Aku di tuntun Ayah menuju warung Mbok Dhana untuk makan nasi lengko, menu istimewa kami. Nasi lengko khas Cirebon ini berisi lauk tempe dan tahu goreng, toge yang telah di rebus, mentimun yang dicacah, kecap, bumbu kacang, daun kucai, di tambah juga bumbu bawang. Jika suka pedas bisa di tambahkan sambal. Satu porsi nasi lengko Mbok Dhana masih terjangkau buat kami karena hanya di hargai 2.500 rupiah.

    Syukurlah warung Mbok Dhana buka. Kalau tutup, kami terpaksa makan di warung lain yang menjual nasi lengko seharga 4.000 rupiah. tapi kalau terpaksa makan di sana, kami hanya memesan nasi dengan lauk amat sederhana yang harganya lebih mahal lima ratus rupiah dari satu porsi nasi lengko Mbok Dhana.
   "Nasi lengkonya dua ya, Mbok,"pesan Ayah sambil mengacungkan dua jari ke arah Mbok Dhana, "satu jangan pakai sambel, buat Yusuf, "Sambil tersenyum, Ayah mengusap kepalaku.
   "Minumnya teh anget?"tanya Mbok Dhana.
   "Air putih saja, Mbok,"jawab Ayah.

    Dalam hati, aku ingin sekali minum susu cokelat yang menggantung tali yang ada di belakang Mbok Dhana. Kami belum pernah minum susu. Bagaimana rasanya, ya ? Pasti enak. Tapi aku takut Ayah tidak memiliki cukup uang untuk membelinya. Dua piring nasi lengko saja sudah 5.000 rupiah. Di tambah dua gelas air putih yang sekarang sudah di hargai 500 rupiah per gelas. Biaya sarapan yang sakaligus makan siang kami hari sudah 6.000 rupiah. Belum untuk makan malam kami nanti. Pasti tidak cukup jika di gunakan untuk beli segelas susu cokelat buatku.
   "Kamu kenapa, Suf ? Bosan, ya, makan nasi lengko terus ?"tanya Ayah.

   Segera saja kualihkan pandanganku pada sepiring nasi di hadapanku. Sambil menggeleng aku menjawab,"Tidak apa-apa, Yah. Yusuf suka nasi lengko, kok."
   "Nanti, kalau Ayah punya rezeki, kita makan pakai ayam goreng, ya."
   "Ini juga enak,"jawabku sambil melahap nasi lengko dalam diam.

    Ayah memperhatikanku. Dia yang membesarkanku, paham benar perasaanku."Iwan, kamu mau apa?"tanyanya sabar.
  "Aku....aku ingin minum susu cokelat, Ayah,"jawabku akhirnya, ragu-ragu.

    Sekonyong-konyong Ayah merogoh saku bajunya, menghitung apakah uang hasil dari pagi sampai siang ini cukup untuk membayar segelas susu cokelat.
Sepertinya cukup. Lalu Ayah memanggil Mbok Dhana yang sedang menggoreng di dapur.
   "Mbok, susu cokelat satu!"seru Ayah.
   Mbok Dhana keluar dari dapur,"Dingin atau panas?"tanyanya.
   Ayah menoleh padaku. "Dingin,"jawabku spontan.
   "Waaaahh, hasil tadahan piring kosongnya dapat banyak ya, Pak?"gurau Mbok Dhana sambil menuangkan air dan es batu ke dalam gelas. Ayah tersenyum.

   Akhirnya aku bisa minum susu cokelat dingin. Mungkin rasanya hampir sama dengan es krim yang di makan anak kecil tadi. Hanya bedanya, es yang dia makan telah beku, punyaku tidak. Bagiku rasanya tetap saja sangat enak, tak kalah dengan es krim itu. Mungkin.
   Susu cokelat dingin adalah sedikit variasi dalam kehidupanku bersama Ayah. Jarang sekali terjadi. Aku tak tahu sampai kapan kehidupan kami berjalan seperti ini. Aku, Ayah, dan piring kosongnya kerap jadi sorotan mata orang. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka tentang kami.
   Sungguh, kelak jika besar nanti aku ingin berkerja dengan pekerjaan yag lebih baik. Tak mau seperti ayahku. Bila sudah bekerja akan aku belikan Ayah makanan yang enak, bukan nasi lengko murahan, dan pakaian bagus. Entah bagaimana kudapatkan pekerjaan itu sementara sampai sekarang aku tak pernah bersekolah.

   Andai orangtuaku tak semiskin ini, aku pasti bisa sekolah, makan dengan layak, dan pakaianku tak akan sekotor dan sekucel ini. Aku pandangi wajah Ayah yang penuh kerutan dimakan usai dan kemiskinan. Ia tengah menghitung hasil tadahan. Sungguh aku sedih melihat ayahku yang sudah senja tapi hidupnya selalu susah. Sering ku bertanya sendiri, kenapa Ayah memilih pekerjaan ini kalau ini masih bisa di sebut pekerjaan? 
 
   Kata Ayah, dulu dia pernah bekerja. Jadi kuli, karena dia tak punya bekal pendidikan apa pun. Kondisi kesehatan dan usianya yang semakin tua tak lagi menyisakan tenaga untuk sekedar menjadi kuli. Kematian Ibu yang sakit tanpa penanganan medis, semakin mengikis kekuatan Ayah. Cara inilah yag tetap membuat Ayah dan aku tetap bisa hidup.

   Aku tak tahu hidupku di masa depan. Hari ini dan entah sampai kapan, kemiskinan dan kelaparan adalah warna suram hidup aku dan ayahku. Namun, tetap ada satu warna indah dalam hidupku, yaitu besarnya kasih sayang dan kesabaran Ayah kepadaku. :)


Kamis, 31 Juli 2014

Israel Kejam




Bismillahirrahmanirrahim...

Ya Allah, Engkau Maha melihat, mendengar, engkau maha segalanya ya allah...Ya Allah, Berikanlah keselamatan kepada penduduk Palestina dari serangan zionis Israel... Sabarkanlah hati mereka dalam menghadapi cobaan terberat ini... Berikanlah surga-Mu kepada mereka yang mati syahid atas serangan Israel..

Ya Allah, Berikanlah kemenangan kepada pasukan-pasukan Muslim Palestina, dalam menghadapi serangan Yahudi Israel, yang nyata-nyata telah membuat kerusakan di muka Bumi-Mu ini Ya Allah... Mereka melarang negara-negara Muslim memiliki senjata nuklir, tapi mereka nyata-nyata mengembangkan senjata-senjata nuklir pemusnah massal yang siap di luncurkan setiap saat untuk menghancurkan umat Muslim...

Ya Allah, Hancurkan-lah pasukan darat mereka, seperti ketika Engkau memberikan kemenangan kepada Rasulullah Muhammad saw saat menghancurkan pasukan kafir Qurasy... Berikanlah kemenangan kepada para Mujahidin Palestina, seperti ketika Engkau memberikan kemenangan besar kepada pasukan Salahuddin ketika menghancurkan bala tentara salib... Satukanlah faksi-faksi yang terpecah di Palestina, agar mereka konsentrasi menghadapi Israel...

Ya Allah,  Hancurkanlah Israel dengan sekutu Amerika Serikat-nya yang selalu membantu mereka... seperti Engkau menghancurkan kezaliman & kesombongan Fir'aun...

Ya Allah, Kabulkan doa kami ini....

Amin Ya Rabbal Alamin....

Sabtu, 28 Juni 2014

INILAH AKU...

 Hello ... ???
 Ini lah Aku...!!!
Aku jelek

Aku bodoh

Aku jahat

Aku penakut

Aku yang pemalu 

Aku yang egois

Aku yang boros 

Aku yang pelupa

Aku pemarah

Aku yang suka menghayal

Aku yang cengeng 

Aku yang lemah

Aku yang suka bercanda

Aku pencemburuan

Aku penyakitan

Aku pembohong

Aku yang mudah lalai

Aku yang suka membantah

Aku yang suka bermalas-malasan 

Aku yang manja

Aku yang suka mengeluh

Aku yang mudah putus asa

Aku yang emosian

Aku yang suka menipu

Aku pembenci, dan

Aku pendendam


Rabu, 21 Mei 2014

Cerita Sekolah


Assalamu'alaikum Wr.Wb

Hari ini Nurul punya cerita untuk semua

Bismillah :

  Awal masuk SMA rasanya menyenangkan, bertemu dan berkenalan dengan guru-guru hebat, teman-teman baru adalah aktivitas yang di lakukan di saat pertama masuk sekolah, di mulai di adakannya mos selama tiga hari menurut nur biasa" aja. Sewaktu mos teman yang pertama nur kenal itu fitri, dia orangnya baik dan cantik, setelah mos selesai dan pembagian kelas pun selesai, nur masuk ke kelas bersama fitri dan teman-teman lainnya, karena nurul orangnya pendiam, pemalu, kurang pergaulan, dan suka tidur di kelas, bahkan hari pertama di kelas, teman sebangku sendiri belum nur kenal, tapi di saat sistem belajar mengajar sudah aktif, nur sedikit" dapat kenalan di kelas, dia fatma teman sebangku nur, misda, dinda, dia orang baik tidak pilih" teman yang sederajat dengannya, di semester satu, nurul rajin belajar, dengan guru yang tegas " ibu dwi ". suara keras pak dion dan guru-guru lainnya yang hebat", banyak kenangan di kelas X, tapi pada saat penaikan kelas salah satu teman kami pindah dari sekolah, sangat merasa kehilangan...

  Di kelas XI nurul memilih jurusan ipa, dan Alhamdulillah masuk di jurusan ipa, pelajaran yang paling nur sukai di kelas XI adalah kimia dengan guru yang lembut, lucu, cerewet. hehehe...  tapi di saat pelajaran sejarah, nurul sering tidur di dalam kelas, haha.. karena pelajaran itu yang paling nur tidak mengerti di antara pelajaran lainnya.
Waktu di kelas XI, banyak banget kejadian-kejadian yang nurul benci, ada yang berantem lah, bukan hanya cowok yang berantem tapi cewek juga. ha ha ha . Ada juga cuman masalah sepele di besar besarin , kalau nur lihat kejadian seperti itu, nurul hanya bisa berdiam di kelas karena malas bingit ikut campur, dan yang anehnya lagi ada yang takut sama dokter, ha ha ha.

  Waktu kelas XII, banyak tingkah aneh lagi yang di perbuat teman-temanku, ada yang suka joget" lah, comedy" lah, dan masih banyak lagi. hmmm... tapi teman-teman ku kreatif, banyak video ataupun rekaman yang mereka" buat. Di kelas XII Nurul sudah malas belajar padahal waktu terus berjalan... nggak terasa sudah menjelang Ujian Nasional, sebagai siswa yang baik , nurul perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian dengan otak seadanya. Sampai UN selesai dan sudah menunggu pengumuman kelulusan, kecemasan, kegelisahan, dan air mata terus berderai, nurul hanya bisa  berdoa kepada Allah apapun hasilnya nurul akan terima dengan lapang dada, tidak lama sesudah magrib hp ku berdering dan itu sms yang mengatakan Selamat ananda di nyatakan LULUS, nurul sangat bersyukur dan Alhamdulillah kecemasan, kegelisahan pun hilang dan air mata itu kebahagiaan atas keberhasilan nurul dan teman-teman. Bagi teman ku yang belum berhasil, jangan pernah putus asa terus semangat, bangkit lah berikan yang terbaik dari yang terbaik... semangat...

   Sekian dari cerita saya, jika ada salah apapun itu mohon di maafkan karena kesalahan itu datangnya dari diri saya sendiri..sedangkan kebenaran hanya datangnya dari Allah SWT.


Selasa, 21 Januari 2014

Inilah Hamba Yang Pelupa..

Assalamu'alaikum Wr.Wb


Hari ini nurul punya cerita, untuk nur dan untuk semua...

Bismillah :


   Semenjak kecil nur terbiasa dengan hijab, ibadah, puasa dan amalan lainnya. Itupun karena didikan Ibu dan Ayah yang membuat nur seorang hamba Allah yang taat dan berbakti, nur pun bahkan sudah mampu mengaji, dan menghafal sebagian ayat-ayat Al-Qur'an dengan sempurna.Sejak itu nur masih sebagai siswa sekolah dasar kelas 3, teman teman sebayah nur sempat bilang kalau nur anak yang pintar dengan agama,anak yang baik, nur hanya bisa menjawabnya terima kasih dan karena didikan ibu saya juga.

   Sekarang umurku sudah 17 tahun, masa-masa kecil sudah nur enyami selama sepuluh tahun.
Hari-hariku ku isi dengan bermain,bergaul dengan seangkatan denganku, dan belajar. Sehingga sering menorehkan prestasi, sampai ibu, ayah, kakak, bangga kepadaku.
Nur mulai sering lupa dengan shalat, mengaji, seperti yang nur lakukan sejak masih kecil, nur juga sering menghitung-hitung sendiri. Sudah berapa banyak amal yang aku kerjakan. Sudah berapa besar pahala yang tercatat untukku. Bahkan merasa diriku yang paling mulia dan tentu saja paling layak masuk syurga.
Nur sempat kepikiran , apakah semua yang kulakukan sejak masih kecil bisa terulang kembali ?..
Nur takut suatu saat nanti ibu ayah akan murkah dengan kelakuan nur sekarang yang melalaikan shalat dan amalan lainnya.

   Mungkinkah suatu saat nanti Tuhanlah yang mengangkat derajat seseorang dan juga yang merendahkannya. Belum tentu yang sekarang taat keesokan harinya malah terjerumus dosa... Begitu pula dengan saat ini terjerumus dosa keesokan harinya malah bertaubat. Untung tidaknya manusia itu tergantung akhir hidupnya.


   Aku hanya hambamu yang pelupa ya Allah...
   Namun aku mohon,
   Jangan lupakan hamba ya Allah.